Hari-30: Sorong, bertemu teman baru dan perjalanan menuju tempat impian para penyelam

Hari-30: Sorong, bertemu teman baru dan perjalanan menuju tempat impian para penyelam





Kemarin kali ketiga aku ke Ujungpandang selama 3 minggu ini. Yang pertama dan kedua ketika ke Wakatobi, dan kali ini ketika akan ke Sorong. Biasanya aku selalu menginap sehari di Ujungpandang, kali ini tidak karena aku datang siang hari dan sebaiknya berangkat dari rumah jam 2.30 subuh ke Bandara karena pesawat menuju Sorong akan tinggal landas pukul 4.20. Jarak bandara dari rumah adik paling cepat ditempuh dalam 30 menit, kalau siang hari bisa satu jam lebih.

Pesawat ke Papua umumnya berangkat subuh dari Ujungpandang, dengan jarak tempuh 2.5 jam ke Sorong diharapkan pagi-pagi sudah sampai disana. Kali ini aku menggunakan penerbangan Batavia, karena harganya lebih murah dan jam kedatangannya cocok dengan rencana keberangkatanku dari Sorong ke Rajaampat. Menuju raja ampat harus menggunakan kapal dari Sorong yang berangkat setiap hari pukul 2 sore. sebenarnya Merpati memiliki jadwal berangkat pagi, sehingga sekitar jam 11 pagi sudah sampai di Sorong dan tidak perlu menunggu lama di kota Sorong, tetapi aku punya pengalaman buruk dengan Merpati pada saat ke Sorong pesawat kami pernah delay sampai 4 jam sehingga kali ini aku mencoba penerbangan yang lain.

Sesuai rencana, jam 3 subuh dengan diantar adik aku tiba di Bandara Hasanuddin yang megah itu dan melakukan cek in. Bandara Hasanuddin beroperasi selama 24 jam, karena jam 1 dini hari pun ada penerbangan Garuda ke Biak! Penerbangan ke Papua yang membuat bandara ini beroperasi selama 24 jam. Aku melewati seklompok turis yang sedang tidur di bandara, kemungkinan akan terbang pagi atau siang nanti. Menginap di bandara sepanjang tidak dilarang adalah cara murah untuk menghemat biaya penginapan, semua tersedia dari kamar mandi sampai tempat untuk makan. Karena jadwal berangkat masih sejam lebih, aku pun memilih tidur dilantai ruang tunggu yang beralas karpet kain tebal.

Bandara Termegah di Indonesia Timur : Hasanuddin

Penumpang Menunggu Pesawat

Perjuangan mendapat tiket Pelni, KFC Sorong dan Perjalanan dengan Marina Express

Sesuai jadwal, pukul 4.20 kami sudah didalam pesawat dakurang lebih 15 menit kemudian pesawat kami tinggal landas menuju Sorong. sepanjang perjalanan karena masih mengantuk aku lebih memilih tidur. Sekitar 2.5 jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Sorong. Lapangan terbang masih seperti dulu, koper diangkut secara manual oleh porter dari mobil pengangkut barang, nomor bagasi dibacakan dan kita mengambil bagasi kita. Tanpa ban berjalan yang diatasnya diletakkan koper, semua serba manual dan riuh seperti pedagan menjajakan dagangannya di pasar.

Aku belum tahu rencana selanjutnya, yang jelas jam 2 siang sudah harus di dermaga kapal penyeberangan ke Raja ampat. Tetapi jarum jam masih menunjukkan pukul 8 lebih beberapa menit, seperti biasa aku memilih bersantai di bandara menikmati hiruk pikuk orang. Karena belum sarapan, aku memilih sarapan dipojok bandara sambil mengatur rencana selanjutnya. Sekitar 90 menit aku menghabiskan waktu duduk di warung mematangkan rencana dan mengobrol dengan orang Papua yang kebetulan sarapan ditempat itu. Rencana berikutnya mencari hotel untuk mandi dan istirahat. Rencana mencari hotel berubah ketika sampai disebuah hotel yang kamarnya biasa-biasa aja, tetapi menawarkan harga 175 ribu hanya untuk mandi dan istirahat 4 jam. Lebih baik aku mencari tiket kapal pulang ke tempat asalku Nabire. Sampai di loket Pelni aku mencoba mengantri tiket, tapi karena jumlah orang sangat banyak dan pasti bisa sejam baru dapat tiket, akhirnya aku menyerah dan berpindah ketempat lain yang kebetulan lebih sunyi. Tempat ini sebenarnya milik koperasi Pelni, tetapi menjual tiket dengan harga lebih mahal 5 ribu karena tempatnya kecil dan agak jauh dari kantor Pelni sehingga yang antri tidak banyak. Tigapuluh menit mengantri akhirnya tiket kelas 1 Sorong-Nabire seharga 700 ribu pun aku dapat, satu masalah selesai pikirku. Tiket kapal di Papua saat Natal pasti laku keras, karena masyarakat pulang ke tempat asal untuk merayakan Natal. Yang dari Sorong ketempat asal mereka di Manokwari, Biak, Nabire dan Jayapura. Menggunakan kapal Pelni jauh lebih murah ketimbang menggunakan pesawat.

Sebenarnya aku ada saudara yang tinggal di Sorong, tetapi tidak mengangkat telepon saat beberapa kali aku telpon. Kemungkinan dia merasa malu dengan ku karena pernah tidak menepati janji sehingga menghindar mengangkat teleponku. Aku memutuskan nongkrong di KFC sambil menunggu jadwal kapal ke rajaampat. KFC letaknya bersebelahadengan supermarket terbesar di kota Sorong. Menjelang Natal seperti ini orang ramai belanja kebutuhan Natal. Senang rasanya bertemu orang Irian dan mendengar mereka bercakap-cakap  logat Irian, setelah sekian lama tidak mendengarnya. Sekitar 2 jam aku menunggu sambil makan dan internetan. Mendekati jam 13.30, aku belanja minuman dan makanan ringan di supermarket sebelah, takut di Raja4 sulit mendapatkan snack.

Kapal angkutan ke rajaampat berlabuh di pelabuhan rakyat, berbeda dengan kapal Pelni. Lokasinya agak masuk dari jalan utama dan cara terbaik menuju kesana dengan menggunakan ojek seharga 10 ribu dari KFC ketempat tersebut. Tadinya kami akan menggunakan Marina Express yang berukuran besar, tetapi karena mengalami gangguan mesin kami akhirnya dipindahkan ke kapal yang lebih kecil. Tidak seperti yang kubayangkan, kapal umum menuju Rajaampat besar dan bersih, sehingga nyaman untuk digunakan. Jangan bayangkan kapal Pelni, tetapi untuk ukuran kapal penyeberangan di pelosok Indonesia,  Marina Express yang berukuran kecil ini sudah bersih! Jam 15.00 waktu sorong, kapal kami pun melaju menuju rajaampat dengan perkiraan waktu tempuh tiga jam.

Arnaud  Gibouin dan Sue Lim, Sahabat Baru Yang Juga Pengelana Tunggal

Lelaki bule itu bernama Arnaud Gibouin. Perkenalan kami berawal ketika aku melihatnya bercapak-cakap dengan lelaki lokal di dalam kapal sesaat sebelum kapal berangkat. Aku berpikir pemuda lokal itu guide atau teman jalannya. Tetapi ternyata pemuda lokal itu yang belakangan aku tahu orang Ternate, hanya membantunya memandu ke atas kapal. Sering kita jumpai orang lokal yang dengan ringan tangan membantu saat kita kesulitan dalam sebuah perjalan, entah mencari tempat atau sat mengangkut koper-koper yang berat tanpa meminta imbalan. Karena kami berdua sama-sama sendiri akhirnya kami pun berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Arnaud tidak tahu akan menginap dimana, sehingga aku menawarkan untuk menginap di Hotel yang telah aku pesan sebelumnya melalui sms saat di Ujung pandang kemarin.

Informasi Hotel aku dapat dari Arif pengelola Dive Operator Rajaampat yang juga DM.Aku dikenalkan oleh David warga Italia yang pernah menyelam bersama akudi Pulau Komodo. Perkenalan ku dengan Arif pun melalui Facebook, dia memberi nomor telepon dan kami pun telpon-telponan untuk memakai jasa opertor menyelamnya. Arnaud setuju, berbeda dengan aku yang ingin diving di Rajaampat, Arnaud hanya ingin snorkel di Rajaampat karena dia tidak punya sertifikat menyelam. Arnaud bisa berbahasa Indonesia karena beristrikan orang Ambon, sehingga memudahkan dia mencari informasi dengan orang lokal. Dia baru saja melakukan trekking di Lembahbaliem selama 5 hari. Dari Jayapura, Arnaud menggunakan kapal ke Sorong, selanjutnya menghabiskan 4 hari disini untuk melanjutkan perjalanan ke Ambon. Di Ambon, dia akan bertemu istrinya yang datang dari Perancis karena mereka berencana Natalan di Ambon. Arnaud jelas lebih mengerti tempat wisata eksotis di Indonesia daripada aku, karena ini perjalanannya ke sekian ke Indonesia, dan sekali berjalan dia dapat menghabiskan waktu sebulan lebih.

Sue Lim, seorang wanita tangguh dari Malaysia. Kami berkenalan sesaat sebelum turun dari kapal di Rajaampat. Di kapal kita dengan mudah membedakan mana penduduk lokal dan mana yang turis. Ransel besar, cara berpakaian tidak seperti lokal, apalagi kalau bertampang kaukasian atau asia, dapat dipastikan turis. Aku duduk berdekatan dengan Arnaud, Sue beberapa bangku didepan kami. Karena tampangnya tidak pernah senyum dan cenderung serius, aku tidak berusaha mencoba berkenalan, lagipula sepanjang perjalanan aku asyik mengobrol dengan Arnaud yang ramah. Saat akan turun, aku menanyakan apakah tujuan kami sama? Wajahnya terlihat bingung dan mengatakan sedang mengalami kesulitan karena orang yang janji menjemputnya ternyata tidak dapat dihubungi. Seharusnya dia akan menyambung perjalanan ketempat lain dengan dijemput oleh guidenya di pelabuhan Waigeo, gerbang masuk ke Rajaampat. Guide yang dikenal melalui  website. Karena hari sudah gelap, sendiri ditempat yang asing buat dia, dan semua rencana nya terlihat batal, akhirnya dia meminta bergabung dengan kami. Kami pun bersama-sama menggunakan ojek dari dermaga Waigeo menuju Hotel Marasrisen yang juga pemilik dive operator Rajaampat.

 Sue, seorang ikan. Sudah menyelam sekitar 300 kali, dan kedatangannya ke Rajaampat tentu untuk menyelam. Aku baru cebong yang belajar menyelam, dengan jumlah menyelam belasan kali, tetapi nekat datang ke rajaampat karena terprovokasi cerita orang-orang.Sekalian saja disinggahi pikirku, saat pulang kampung. Mengetahui aku juga penyelam, ia memintaku untuk menanyakan ke Arif apakah aku dapat menyelam bersama-sama dengan kami?

Hotel Maras Risen, semalam 350 ribu dan keributan kecil

Saat cek ini terjadi sedikit keributan dengan resepsionis. Sebenarnya tidak ada masalah denganku, tetapi masalah dengan kedua teman turisku. Mereka berdua tidak bermasalah dengan biaya 350 ribu permalam yang akan dibooking selama 3 malam. Tetapi bermasalah dengan biaya tambahan sebesar 50 ribu yang diminta oleh aparat kepolisian untuk uang kemanan selama di Rajaampat, ini berlaku hanya untuk turis non Indonesia. Aku sempat marah-marah kepada resepsionis dan temanya, setahu aku tidak ada aturan yang mengatakan hal itu didaerah turis lainnya kenapa ditempatku Papua seperti itu? Lagipula bukankah mereka sudah membayar visa saat masuk ke Indonesia? Kenapa harus dipalakin lagi kataku? Kalau pun ada aturannya mohon ditunjukkan pintaku. Petugas hotel pun tidak dapat menujukkan aturan daerahnya. Karena merasa terpojok dan tidak dapat menjelaskan, akhirnya mereka menghubungi polisi yang biasa bertugas mengambil uang 50 ribu ke hotel.

Polisi yang terlihat masih muda itu datang dan mencoba menjelaskan aturannya. Dengan dalih turis yang lain tidak keberatan dan ada undang-undangnya, polisi itu pun tetap merasa keputusannya benar. Jalan tengahnya aku mengusulkan agar dimasukkan dalam biaya hotel sehingga pelanggan tidak merasa dipalak kataku. Dia pun mempersilahkan tidak membayar tetapi apabila terjadi sesuatu kami tidak dapat membantu katanya. Kami mengakhiri pembicaraan dengan bersenda gurau, meski tidak ada keputusan akhir dari percakapan itu. Yang jelas pada saat cek out beberapa hari kemudian  Sue dan Arnaud tidak dipungut biaya 50 ribu itu. Mungkin pihak hotel yang membayar dengan memotong keuntungan mereka sebesar 50 ribu. Tetapi satu lagi potret buram negara kita yang membuat malu negara ini di depan mata turis.

Persiapan Diving besok Pagi

Sesudah kami bertiga check in, saat makan malam aku menghubungi Arif menyampaikan rencana Sue bergabung dengan kami diving. Awalnya Arif menyetujui tetatpi beberapa saat kemudian dia mengabarkan aku dan Sue bahwa jumlah orang sudah melebihi kapasitas sehingga Sue tidak dapat ikut.  Hari ini dan beberapa hari kedepan, dia sudah dibook diver lokal dari Jakarta yang berjumlah 8 orang, karena jumlah  DM terbatas akhirnya Sue dicoret dari group. Tidak lama kemudian, Arif mengabari lagi, karena ada turis Swedia bernama Andre yang ingin bergabung akhirnya kami dibagi menjadi dua group, tim dari Jakarta dan tim tambahan yang beranggotakan aku, Sue dan Andre. Artinya Sue dapat menyelam besok pagi, dia senang sekali karena tujuannya datang ke Rajaampat akhirnya terkabul, menyelam!

9 Comments

  1. Mantapp bang….i wish i could go there with the kids : )

  2. rausen

    Iyoo Febi, nanti anak2 besar sedikit bole, abang yang bawa dorang jalan2. Tempat bagus skali !

  3. Wah… mantap nih, bisa dicoba!!

Leave a Reply